oleh

Makassar Dihuni Ribuan Janda dan Duda

MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :

Ketika tak ada lagi kebahagiaan, perceraian bukan hal buruk-justeru itu adalah keputusan terbaik”.

Fenomena seperti inilah, dialami-rasakan ribuan Pasangan Suami-Isteri (Pasutri) yang telah membina bahtera rumahtangga, toh ujungnya kandas dengan sebuah perceraian.

Paling memiriskan hati, di Kota Makassar tingkat perceraian relatif meninggi hingga melahirkan status JANDA dan DUDA.

Sepanjang tahun 2023, jumlah permohonan cerai gugat dan cerai talak yang sudah diputuskan lewat sidang di Pengadilan Agama (PA) Kelas 1A Makassar, mencapai 2030 kasus.

Panitera Pengadilan Agama kelas 1A Makassar Imran mengatakan, meningkatnya data penceraian dipicu beberapa hal yang esensial.

“Jika tahun 2022 lalu hanya dikisaran 2000 ribuan kini bertambah sekitar 300-an pada tahub 2024.

Imran merinci, kasus terbanyak bulan Oktober sebanyak 233 kasus perceraian, Januari 179 kasus, Februari 180, Maret 174, April 109, Mei 118, Juni 147, Juli 216, Agustus 159, September 150, Oktober 233, November 188, dan Desember 177.

Penyebab perceraian, bebernya,  mulai dari perselisihan, kekerasan dalam rumah tangga, kawin paksa hingga persoalan ekonomi.

Hal lain, terang Ilham, faktor perselisihan dan pertengkaran terus menerus di lingkungan rumah tangga sebanyak 1.911 kasus dan faktor pangan meninggalkan salah satu pihak 53 kasus.

Selanjutnya, persoalan Ekonomi 44 kasus, kejadian terkait KDRT 10 kasus, juga terkait murtad atau pindah agama 6 kasus, kemudian ditengarai ulah mabuk 5 kasus, dan persoalan poligami 1 kasus.

Sedangkan, faktor lain seperti kasus zina, judi, madat, dihukum pernjara, kawin paksa, cacat badan nol kasus.

Imran menjelaskan, rata-rata usia para penggugat perceraian ini berusia 25 hingga 40 tahun. Mayoritas para penggugat itu dari pihak perempuan.

“Jadi yang mendominasi perkara di PA Klas 1A Makassar itu perceraian. Khususnya perkara Cerai Gugat (CG). Itu artinya, dilayangkan oleh istri, karena istri merasa keberatan sehingga dia menggugat ke PA,” sebutnya.

Disebutkan, sebenarnya hak talak itu ada di suami, tetapi fenomena yang terjadi justru istri merasa terabaikan, sehingga hak-haknya tidak terpenuhi, makanya datang ke PA Makassar untuk melakukan gugatan menuntut haknya.

“Kadang ada orang berpandangan kenapa banyak perempuan atau istri lakukan gugatan di PA, hal ini disebabkan karena suami yang lalai dari kewajiban,” pungkas Panitera PA Klas 1 Makassar.

Terkait hal ini, Sosiolog Anshar Aminullah menilai, banyaknya kasus perceraian yang penggugatnya adalah perempuan cukup menyita perhatian masyarakat.

“Kita tidak boleh melakukan kanalisasi karakteristik sikap dari perempuan kelas-menengah dan kelas-bawah dari pengambilan keputusan mereka bercerai,”ujar kandidat doktor Universitas Indonesia (UI) itu.

 Anshar mengatakan, dibebaskannya istri oleh suami untuk mencari pendapatan sendiri selain tugas utama sebagai ibu rumah tangga memang berpotensi menumbuhkan rasa mapan dan sanggup mandiri, bahkan walau tanpa didampingi suami kelak.

Di sisi lain, katanya, faktor kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan juga harus diakui tetap menjadi pemicu hingga meningkat tajam jumlah perceraian di Makassar.

“Meskipun ini menjadi ranah privasi bagi mereka namun ini menunjukkan bahwa era modern ini kesadaran membangun komitmen berlandaskan pentunjuk agama ini mengalami perubahan yang cukup signifikan,” tuturnya.(bs/red)

EDITOR : Tajuddin – Mustafa

banner 970x250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed