Komentar Analisis dan Evaluasi Debat Pertama

OPINI29 views

Oleh : Ridha Rasyid

banner 970x250

Kita baru saja menyaksikan salah satu bagian dari perhelatan pesta demokrasi, pemilihan presiden  (pilpres)  di halaman kantor Komisi Pemilihan Umum di jalan Imam Bonjol No 29 Menteng , Jakarta  semalam ( 12/12/23). Perdebatan berjalan sangat menarik, “berisi” dan nyaris substansial  dengan 6 sub tema yang menjadi pokok bahasan. Penelis  cukup baik dalam mempersiapkan bahan pertanyaan yang  diajukan kepada para kandidat presiden. Juga  moderator telah menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Dalam tulisan ini, ada tiga aspek yang akan kita tinjau dan memberikan  apresiasi kepada KPU yang menginisiasi model diskusi sehingga kelihatan jauh lebih apik jika di bandingkan debat sebelumnya pada pemilihan presiden 2014 dan 2019. KPU RI  tidak lagi menerapkan format yang kaku berdasarkan kisi kisi yang monoton. Dan juga kali ini dengan tiga  pasang calon presiden yang memiliki kredibilitas mumpuni sesuai bidangnya masing masing.  Tiga aspek dimaksud adalah, pertama, format debat, sebagaimana terlihat pada debat pertama ini, adalah durasi waktu yang amat terbatas. Dengan dua menit bertanya dan satu menit menjawab itu bagi penanya dan sebaliknya satu menit  menit  untuk penanggap, kurang cukup untuk mengelaborasi  jawaban yang mungkin diperlukan waktu lebih dari itu agar  khalayak dapat memahami arah  dan maksud dari jawaban  juga tanggapan, kedua, pendukung/penonton yang hadir cukup mengganggu konsentrasi dari  calon presiden dan boleh jadi juga akan muncul respon balik dari penonton/pendukung lainnya yang justru membuat suasana “panas” akan  memengaruhi  kondisi ruang debat, ketiga, yang perlu ada tapi tidak dihadirkan adalah panel yang memberi tinjauan dan evaluasi  hasil  debat  yang terdiri dari pakar, media, wakil konstituen. Ini menjadi penting untuk  mendengarkan apa komentar mereka menurut kacamatanya masing masing, yang bukan bersifat konklusi, tetapi sudut pandang mereka menanggapi jawaban para  calon presiden itu.

Debat bukan Diskusi
Debat dan diskusi memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Debat biasanya melibatkan dua pihak  yang memiliki pandangan yang berlawanan dan bertujuan untuk membuktikan siapa yang lebih benar atau memiliki argumen yang lebih kuat. Sementara itu, diskusi lebih cenderung berfokus pada mencari solusi atau pemahaman yang lebih baik melalui pertukaran ide dan pendapat. Oleh karena itu, debat dan diskusi memang memiliki tujuan dan cara berbicara yang berbeda. Namun, keduanya memiliki kegunaannya masing-masing dan bisa menjadi sarana yang efektif dalam memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang suatu topik.  Dari pengertian ini, apakah  debat yang diselenggarakan KPU sudah sepenuhnya debat? Kita mungkin belum terbiasa  berdebat. Bukan budaya bangsa ini untuk berdebat jika pengertian kita mengggap bahwa itu identik “pertengkaran” pikiran dan nilai dari narasi yang terucap. Bahkan kita  riskan  untuk melakukannya dengan asumsi bahwa hal itu kurang sopan. Bahwa debat itu tidak ada kaitan langsung dengan etika. Debat itu tidak memerlukan sopan santun, meminjam istilah Rocky Gerung.  Oleh karena itu “pertarungan”  kecerdasan dan penguasaan materi serta narasi.  Pada perdebatan pertama dari rangkaian 5 perdebatan yang direncanakan, perlu ada perbaikan format maupun substansi pertanyaan dari setiap tema pembahasan. Panelis  sedapat mungkin menjangkau hal hal yang sifatnya dinamis , aktual, global dan spesifik yang menjadi fokus kerjasama internasional di berbagai bidang pada tema  yang menjadi pembahasan. Juga perlunya tim expert dari  para capres untuk memberikan masukan pertanyaan yang berkualitas kepada calon presidennya serta upaya untuk menguasai  inti pertanyaan tersebut sehingga bisa memberikan tanggap balik tatkala jawabannya tidak sesuai apa yang seharusnya menjadi pusat perhatian atas pertanyaan  itu.

Evaluasi Debat Pertama

Mungkin tidak banyak yang menjadi catatan dapat kita lihat  dari perdebatan pertama, dari kekurangan dan kelebihannya. Yang jelas bahwa debat pertama  memberi kesan dan pesan kepada rakyat yang memiliki kedaulatan untuk memberi mandat kepada siapa calon atau pasangan  calon yang akan dipilihnya. Apatahlagi angka undicided voters  masih di atas 20% (survey harian Kompas, 28% sementara Pollmark-nya Eep Saefullah Fatta pada kisaran di atas 40%). Pertanyaannya kemudian apakah ajang debat ini  bisa dijadikan salah satu parameter mengukur  tingkat “keterpengaruhan” konstituen dalam menentukan pilihan. Dari apa yang sudah menjadi kelaziman demokrasi di Amerika  Serikat dalam kontestasi pemilihan presiden-nya menunjukkan bahwa debat itu  sangat berpengaruh bahkan nyaris menentukan selain cara “meng-akali”  hasil pilpres . Realitas debat memberi kontribusi kemenangan pada negara negara demokrasi yang sudah terbiasa debat adalah salah satu  instrumen yang mendapatkan “pembelajaran” khusus oleh tim suksesnya.  Mungkin untuk  demokrasi model Indonesia belum merupakan ruang yang positif dalam “menggiring” opini masyarakat menilai kredibilitas dan kompetensi  calon sehingga  berdampak pada elektabilitas. Bahkan tak kurang ada yang berpendapat  “nyinyir” bahwa debat itu adalah pemberian kesempatan untuk saling mempermalukan ataupun mengintimidasi lawan. Ini penilaian yang absurd dan boleh jadi kekurang-pahaman tentang makna dari debat itu.
Pelaksanaan debat  pertama ini, paling tidak menggambarkan kepada kepada kita tiga hal, pertama, bahwa kesiapan calon presiden  mengikuti debat masih relatif perlu ada perbaikan. Hendaknya tim sukses yang ada pada mereka, perlu mengevaluasi di mana kekurangan dan kelemahan. Seperti pada penguasaan panggung, persiapan fisik, memahami betul materi apa yang akan disampaikan serta mengantisipasi pertanyaan pertanyaan rumit khususnya terkait kebijakan apa yang pernah diambil ketika mereka menjalankan perannya sebelum  masuk sebagai kontenstan pilpres, kedua, hal yang sangat perlu adalah pengendalian diri dan emosi  seyogyanya terjaga dengan baik. Emosi  berlebihan dan tidak terkendali adalah wujud “habisnya” pengetahuan dan pemahaman atas apa yang ingin dijelaskan lebih lanjut. Sebab kala bahan/materi atau narasi sudah  tidak ada, pelampiasannya adalah mempertontonkan  emosi. Juga benar benar dijaga untuk tidak membuat blunder yang akan  mempermalukan diri sendiri, ketiga,  KPU RI hendaknya membuat rekapitulasi dan buku pintar terkait hasil debat itu untuk menjadi dokumentasi penting bagi para capres atau pasangan capres dan juga bagi keseluruhan rakyat Indonesia, sebagai bukti bahwa pernah menyampaikan hal hal yang dengan jelas termaktub dalam buku itu. Pertanggungjawaban moral yang melandasi pembukuan notulen debat, agar menjadi pembelajaran bagi siapa saja yang ingin mempelajari hal hal yang berhubungan dengan tahapan pilpres itu. Mungkin ini hal baru dan belum pernah ada di dunia, termasuk demokrasi Amerika Serika,  yang memublikasikan secara lengkap hasil debat itu menjadi sebuah buku  yang bisa dipelajari dan dibaca oleh  masyarakat.
Debat sekali lagi, adalah rangkaian  menilai kemampuan seseorang dalam  pelbagai perspektif  untuk mendapatkan kekuasaan, juga bagaimana kekuasaan itu semestinya dijalankan dari apa yang pernah dijanjikan. Debat jangan diartikan angin lalu yang tidak bernilai, karena ketika itu yang menjadi asumsi kita maka kita hanya membuang buang  waktu, menyiakan nyiakan pikiran dan menghabiskan uang cukup besar, namun tidak ada hal hikmah yang dapat diperoleh dibaliknya. Debat itu prestius bukan prestasi.

PENULIS : Pemerhati Pemerintahan

EDITOR : Burnas Mangung

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed