PSM Makassar Ditengah ‘Fatamorgana’ Stadion (Bag-II)

OLAHRAGA25 views

Catatan : AM.SUKARDI TAHIR (Pemimpin Redaksi)

banner 970x250

MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :

Seperti berita sebelumnya yang sudah tayang, dua hari lalu, terkait nasib PSM Makassar yang bakal berlaga kembali di pentas Liga 1 Indonesia 2023-2004, tanpa stadion sendiri di Kota Makassar memang sangat dilematis dan menarik dicermati.

Sayang, ekspektasi besar Juku Eja untuk melanjutkan pembangunan dua stadion yang sudah mangkrak dan terbengkalai itu ‘Barombong dan Mattoanging’ sepertinya hanya identik ‘Jauh Panggang Dari Api’

Analisa penulis bukan tanpa alasan. Sebab, sudah dua tahun berlalu janji-janji Pemprov bersama DPRD Sulsel nengakui sudah menganggarkan lewat APBD Pokok maupun Perubahan untuk kelanjutan renovasi Stadion Mattoanging.

Tetapi, realisasinya ‘nol besar’ tidak ada action pengerjaan di lapangan.

Dengan kondisi sengkarut pembangunan stadion itu, membuat Bastian,  Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Patria Artha Makassar (PUKAT UPA) menggeleng-gelengkan kepala pertanda prihatin.

Diakui, pihaknya sudah lama mengkaji pembangunan dua fasilitas olahraga di Kota Makassar itu.

Dan hasilnya, memang cukup rawan dari segi hukum maupun kelayakan.

“Barombong udah gak bisa, Mattoanging juga bersoal (statusnya). Apalagi, ternyata tanahnya (digali) digunakan untuk timbun RTH (Ruang Terbuka Hijau). Itu gak boleh, (tanahnya) itu harus lewat tender,” sorotnya.

Bastian mengatakan Stadion Barombong dan Stadion Mattoanging saat ini berstatus quo.

Pasalnya, status legalisasi kepemilikannya pun diperebutkan.

Stadion Barombong misalnya. Pihak GMTD ingin menyerahkan lahan stadion ke Pemprov Sulsel asalkan dalam bentuk fasum fasos. Sementara dalam aturan, itu tidak boleh.

“Sekarang GMTD mau menyerahkan dalam bentuk fasum fasos, ya gak bisa, ga boleh. Jadi kalau mau diserahkan (dalam bentuk fasum fasos), lahan milik Pemprov hilang. Ini suatu pelanggaran, wajar Pemprov gak mau,” tegas pakar keuangan Negara itu.

Esensialnya lagi, katanya, dari segi klasifikasi bangunan, ternyata tidak layak untuk dijadikan stadion. Dari hasil kajian, bangunannya rawan roboh.

“Jangan sampai dipakai, roboh lagi. Sebelumnya juga memang sempat roboh kan,” bebernya.

Hal.lain, sebut Bastian, untuk Stadion Mattoanging, tidak hanya digugat karena kepemilikan lahan, tapi juga digugat ganti rugi.

Artinya, imbuhnya, Pemkot Makassar juga tidak boleh mengambil alih lahan itu. Prosesnya akan panjang.

“Jadi sekarang, kalau serius mau bangun stadion buat saja stadion di lahan lain. Bisa di Karebosi, direnovasi, bawahnya digunakan untuk fasilitas umum. Pemprov juga punya lahan lain yang luas,” saran Bastian.

Yang menarik, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman pun angkat bicara.

Menurutnya,  Pemprov ingin melanjutkan stadion Barombong. Namun, tidak direkomendasikan oleh BPKP.

BPKP menilai Stuktur bangunan di Barombong tidak sesuai dengan standar sebagai bangunan stadion.

“(Struktur bangunannya) sipil biasa, bukan stadion. Itu yang penting. Tidak memenuhi standar,” beber Sudirman.

Masalah lain adalah status kepemilikan tanah yang diklaim oleh tiga pihak. Sementara, GMTD mau menyerahkan sebagai fasum fasos.

“Itu harus dihibahkan (ke Pemprov), bukan fasum fasus,” katanya.

Khusus  Stadion Mattoanging, Pemprov diminta menunggu oleh BPKP karena status lahannya yang belum klir.

Gubernur menyebut opsi lain yakni Pemprov ingin membantu peningkatan fasilitas Stadion Gelora BJ Habibie Parepare.

Bantuannya,  bisa diberikan lewat bantuan keuangan daerah.

Ironisnya, Pemkot Parepare hanya mengusulkan bantuan pembangunan jembatan kembar di Bacukiki senilai Rp30 miliar dan bukan peruntukan stadion.

Lantas,  apa solusi mesti dilakukan agar Tim Juku Eja  ini bisa disegani, bangga punya stadion sendiri dan tidak keder melihat kemegahan Stadion bertaraf internasional yang ada di Pulau Jawa, Bali, Sumatera dan Kalimantan.

Tidak salah, jika para pengamat, pemerhati dan pecinta berat PSM Makassar di Sulsel khawatir, jika persoalan pembangunan stadion kedepan cenderung menjadi ‘alat” komoditi atau jualan politik para bakal calon Gubernur Sulsel maupun Caleg dengan menebar janji-janji untuk kepentingan Pemilu 2024.

Yang jelas, secara psikologis, beban PSM Makassar saat ini goyah.

Mereka harap-harap cemas ditengah ‘fatamorgana’ tanpa stadion dan tidak jelas juntungannya.

Benar-tidak persepsi itu, hanya publik yang bisa menganalisanya (Habis)

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed