oleh

Sejarah dan Perkembangan Pemerintahan Kota Makassar (Bag.2)

-OPINI-67 views

Oleh : Nur Kasim

MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :

Menurut penelitian para sejarawan, pada zaman prasejarah, perkembangan manusia di Sulawesi Selatan sudah menunjukkan pada tingkat kehidupan perundagian (zaman pertukangan) dengan ditemukannya perkakas peninggalan masa lampau berdasarkan penemuan-penemuan yang dilakukan oleh beberapa ahli prasejarah, antara lain adalah:
Fritz Sarasin atau Karl Friedrich Sarasin [3 Desember 1859 – 23 Maret 1942] dan Paul Benedict Sarasin [11 Desember 1856 – 7 April 1929] dua bersaudara bangsa Swiss, mengunjungi Sulawesi Selatan dari tahun 1893 -1896 dan 1901-1903, melakukan kerja pemetaan geografi dan geologi di daerah yang belum pernah diteliti dan menemukan budaya suku Toala (Pannei) di Maros dan Pangkajene dan Kepulauan, termasuk suku Toala di Gua Lamoncong, Bone. Toala adalah suatu suku penduduk keturunan langsung dari zaman Prasejarah termasuk dalam zaman batu tengah yang hidup dalam gua -dalam bahasa Bugis, Toala (To-ala) mempunyai arti “orang hutan”, “To” artinya orang dan “ala” artinya hutan-. Oleh Van Stein Callenfels menetapkan umur budaya Toala 300 – 500 S.M. Selain itu, Sarasin bersaudara melakukan penelitian di Danau Matano dan menemukan kelompok hewan air tawar yang bersifat tripoblastik slomata dan invertebrata yang bertubuh lunak dan multiseluler (Mollusca)
H.R.van Heekeren [23 Juni 1902 – 10 September 1974], mengadakan penelitian di Sulawesi Selatan. Di Cabbenge (Soppeng) ditemukan fosil hewan pertama serta alat-alat serpih dan kapak perimbas yang berasal dari kala Pliosen Akhir. Di Leang Codong dekat Citta Soppeng, dalam tahun 1937 ditemukan 2.700 buah gigi yang diperkirakan mewakili 2.657 orang yang berasal dari masa Holosin. H.R.van Heekeren melanjutkan penelitian di Kabupaten Maros yaitu di Goa Saripa, ditemukan banyaknya mata panah yang disebut Lancipan Maros.


Dr. P. van Stein Callenfels [4 September 1883 – 26 April 1938] melakukan ekskavasi di daerah Bantaeng dan Gua Batu Ejaya, ditemukan antara lain mata-uang Belanda, gerabah, dan beliung persegi. Di samping itu, ditemukan juga sebuah gelang perunggu, oleh van Stein Callenfels menetapkan umur lapisan 300 S.M.


Tahun 1910 – 1916 Dr. P. van Stein Callenfels didampingi penduduk setempat melakukan penggalian artefak (tembikar, adzes) di Galumpang (Kalumpang) yang diyakini berasal dari Akhir Neolitik, fase yang dimulai sekitar 1500 SM di Indonesia Timur
Temuan-temuan dari kala Pasca-Plestosen dalam gua-gua antara lain, Leang Karassa (Goa Hantu) ditemukan rangka manusia dan alat serpih bilah (pisau atau alat penusuk dibuat dari batu digunakan untuk berburu dan perkakas keperluan rumah tangga) yang merupakan unsur budaya Suku Toala. Di Leang Jarie dan Pattae, Maros ditemukan stensil cap tangan yang diperkirakan berumur 39.900 tahun dan lukisan babi-rusa berumur 35.400 tahun, merupakan stensil dan lukisan tertua di dunia yang ditemukan oleh Ny. Dr. C.H.M. Heeren pada tanggal 26 Pebruari 1950

Arca Buddha yang ditemukan di Sekendeng, Sampaga, Mamuju
Arca Buddha yang ditemukan
di Sekendeng, Sampaga, Mamuju
Selain itu, tahun 1921, di Sikendeng, Sampaga, Mamuju, dekat Sungai Karama, seorang guru bernama Amiruddin Maulana menemukan arca Buddha yang terbuat dari perunggu berasal dari mazhab seni Amaravati, India Selatan yang berkembang pada abad ke 2 hingga abad ke 5 Masehi yang menunjukkan adanya hubungan serta pengaruh tertua budaya India di Sulawesi Selatan atau di Indonesia. Di Makassar (Ujung Pandang) ditemukan sebuah kapak yang sangat besar disebut “Kapak Makassar”, panjang 70,5 cm terbuat dari perunggu dengan hiasan menyerupai bejana yang dapat diisi air. Di Kampung Rea-rea, Pulau Selayar ditemukan Nekara (Keteltrom) terbesar dan tertua di dunia pada tahun 1686 oleh seorang penduduk yang bernama Sabuna, merupakan peninggalan zaman perunggu, bentuknya menyerupai dandang terbalik, garis tengah bidang pukul berukuran 126 cm dan tinggi 92 cm, gambar bermotif flora dan fauna terdiri dari gajah 16 ekor, burung 54 ekor, pohon sirih 11 buah dan ikan 18 ekor. Sementara dipermukaan gong bagian atas terdapat 4 ekor arca berbentuk kodok dengan panjang 20 cm dan di samping terdapat 4 daun telinga yang berfungsi sebagian pegangan.

Dari hasil penggalian di Makassar, ditemukan gerabah-gerabah (alat memasak yang dibuat dari tanah liat) yang berasal dari Galumpang (Kalumpang) di tepi Sungai Karama, Mamuju yang menyebar ke Maros, Makassar, Takalar, dan Bantaeng. Kalau ditinjau corak gerabah, maka masa perkembangannya mencakup masa bercocok-tanam dan masa perundagian. Pembuatan gerabah tersebut mulai pula ditiru dan dikerjakan penduduk di Jongaya, Gowa termasuk Takalar yang berkembang sampai tahun 1970 dan diperdagangkan di pesisir Sulawesi Selatan dengan sistem barter dengan beras atau padi.

Pada tahun 1960-1966, penduduk mengadakan penggalian di beberapa tempat di pesisir Sulawesi Selatan bagian barat seperti di Daerah Pinrang, Polewali, Gowa, Takalar dan beberapa daerah lainnya dengan kedalaman 0,50 m sampai 2,00 m, ditemukan alat-alat rumah tangga (piring, mangkuk, guci, kendi, basi, cangkir dan lain-lain) yang mempunyai nilai seni, budaya, dan ekonomis yang tinggi yang pada umumnya berasal dari Cina dan Siam. Hasil dari penggalian ini menunjukkan adanya hubungan dagang dan kebudayaan antara penduduk Sulawesi Selatan dengan bangsa Cina.(Bersambung/red)

banner 970x250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed