oleh

Sejarah dan Perkembangan Pemerintahan Kota Makassar (Bag-1)

-OPINI-146 views

Ket.Gambar : J.E.Dambrink, (Walikota Makassar (Burgeemester van Makassar) yang pertama, menjabat 15 Agustus 1918 – 1927.(dok)

—————————————————–/-

Oleh : Nur Kasim

MEDIAKTUAL.COM – MAKASSAR :

I. PENDAHULUAN

Kota Makassar pada masa H.M.Daeng Patompo (1965-1978) menjabat Walikotamadya Makassar, yaitu pada tanggal 1 September 1971 berubah namanya menjadi Kota Ujung Pandang setelah diadakan perluasan kota dari 21 km² menjadi 175,77 km².

Namun kemudian, pada tanggal 13 Oktober 1999 berubah kembali namanya menjadi Kota Makassar.

Kota Makassar biasa juga disebut Kota Daeng atau Kota Anging Mamiri. Daeng adalah salah satu gelar dalam strata atau tingkat masyarakat di Makassar atau di Sulawesi Selatan pada umumnya,.

Daeng dapat pula diartikan “kakak”. Ada tiga klasifikasi “Daeng”, yaitu: nama gelar; panggilan penghormatan; panggilan umum. Sedang Anging Mamiri artinya “angin bertiup” adalah salah satu lagu asli daerah Makassar ciptaan Borra Daeng Ngirate yang sangat populer pada tahun 1960-an.

Lagu ini sangat disukai oleh Presiden Republik Indonesia, Ir.Soekarno ketika berkunjung ke Makassar pada tanggal 5 Januari 1962.

Benteng Ujung Pandang, Makassar, Indonesia
Benteng Ujung Pandang, Makassar, Indonesia.


Secara geografis Kota Makassar berada pada koordinat antara 119º 18′ 27,79″ – 119º 32′ 31,03″ Bujur Timur dan antara 5º 3′ 30,81″ – 5º 14′ 6.49″ Lintang Selatan, atau berada pada bagian barat daya Pulau Sulawesi dengan ketinggian dari permukaan laut berkisar antara 0 – 25 m.

Karena berada pada daerah khatulistiwa dan terletak di pesisir pantai Selat Makassar, maka suhu udara berkisar antara 20º C – 36º C, curah hujan antara 2.000 – 3.000 mm, dan jumlah hari hujan rata-rata 108 hari pertahun.

Iklim di kota Makassar hanya mengenal dua musim sebagaimana wilayah Indonesia lainnya, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan berlangsung dari bulan Oktober sampai April yang dipengaruhi muson barat -dalam bahasa Makassar disebut bara’ dan bahasa Bugis disebut bare’.

Dan, musim kemarau berlangsung dari bulan Mei sampai dengan September yang dipengaruhi angin muson timur –dalam bahasa Makassar disebut timoro dan bahasa Bugis disebut timo.

Bulan Mei sampai minggu ketiga bulan Juni, masih terdapat hujan yang turun pada tengah hari atau sore hari disertai guntur yang dipengaruhi angin muson timur. Butir-butir airnya kasar, jatuhnya jarang, dan turunnya tiba-tiba, serta berhenti lebih cepat.

Pada musim kemarau (Juni – Juli), daerah Sulawesi Selatan pada umumnya sering muncul angin kencang yang kering dan dingin bertiup dari tenggara, yang disebut angin barubu (fohn).

Dengan perluasan wilayah Kota Makassar menjadi 175,77 km2, maka batas-batas wilayahnya berubah, sebagai berikut:
Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), dan Kabupaten Maros.
Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Gowa.


Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar.
Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Dalam kehadirannya, Kota Makassar mempunyai pengalaman sejarah tersendiri yang sangat berkaitan dengan sejarah Sulawesi Selatan dan Indonesia pada umumnya sebagai bagian dari suatu keterikatan baik dalam geologi, iklim, fauna, flora, dan penduduk yang keseluruhannya adalah ciptaan ALLAH S.W.T, maupun keterikatan dalam tingkat kehidupan dalam masyarakat, budaya dan sistem pemerintahannya.

Seperti diketahui, Sulawesi Selatan terdiri atas beberapa rumpun suku, yaitu : Makassar, Bugis, Mandar, dan Luwu (Enrekang, Toraja, Pattinjo, Pattae.(bersambung/red)

banner 970x250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed