oleh

Utang Negara Tembus 7000 Triliun Lebih, Ngeri Ah..?

——————————————————

Imbasnya Kebutuhan Pokok Rakyat Serba Naik

MEDIAKTUAL.COM – JAKARTA :

Mengkalkulasi besaran utang negara saat ini, kepala pastilah dibuat puyeng.

Pasalnya, kondisi utang kian membengkak pat-gulipat jumlahnya.

Artinya, bagi pemerintahan saat ini, pinjaman asing dalam berbagai bentuk dan jenis itu bisa jadi tak masalah.

Tetapi, bagi rakyat, besaran utang ini tentu kian menyengsarakan bahkan mengerikan karena kedepan dipastikan pelunasannya bergantung pada rakyat melalui pendapatan pajak.

Saat ini saja, imbas dari utang itu, semua kebutuhan dasar masyarakat serba naik, membuat rakyat kecil terkapar.

Berdasarkan laporan APBN Kementerian Keuangan, angka total nilai utang negara per bulan Februari 2022, terbilang fantastis, mencapai angka Rp 7.014,58 triliun.

Ironisnya, nNilai utang tersebut juga sekaligus mencetak rekor dari yang pernah ada.

Jika dihitung dalam bentuk presentase terhadap (PDB) Produk Domestik Bruto, maka utang berada pada angka 40,17 persen.

Komposisi utang tersebut, memiliki proporsi lebih besar pada surat berharga lainnya, yakni sebesar 87,88 persen dari keseluruhan.

Sedangkan sisa 12,12 persen adalah pinjaman, yang salah satunya terdiri atas pinjaman luar negeri senilai Rp 837,11 triliun.

Hanya memang, mengutip dari naskah resmi laporan APBN tersebut, pemerintah menilai “posisi utang terjaga dalam batas aman dan wajar serta terkendali.” 

Apa dan bagaimana sampai utang negara itu terus menumpuk dari masa Orde Lama hingga diperparah lagi di Era Reformasi ini ?

Keterpurukan ekonomi khususnya finansial itulah yang kian menjauhkan rakyat dari kehidupan Makmur dan Sejahtera.

Pingin tahu skema dan daftar utang sejak berdirinya pemerintahan Indonesia ? Berikut gambarannya.

1. Utang Era Soekarno

Sejak Republik Indonesia lahir, negara sudah dibebankan utang warisan oleh pemerintah Hindia Belanda yang ditanggungkan ke Indonesia, pada pengakuan kedaulatan Indonesia melalui Konferensi Meja Bundar tahun 1949. 

Tak tanggung-tanggung, sejarawan mencatat bahwa warisan utang tersebut sebesar 4,5 miliar Gulden yang ketika diubah menjadi satuan Dollar Amerika Serikat (USD) menjadi 1,13 milliar. 

Sang Proklamator itu juga pernah berutang kepada dua negara adidaya pada masa kepemimpinannya, yakni Uni Soviet dan Amerika Serikat yang senilai dengan 2,3 miliar USD.

Proporsi utang luar negeri condong berat ke pihak Uni Soviet karena kedekatan pribadi Soekarno.

2. Utang Era Soeharto

Berbeda dengan Soekarno yang lebih memilih berutang dan bekerjasama dengan negara-negara blok timur.

Utang pada masa kepemimpinan Soeharto berasal dari lembaga dunia seperti Bank Dunia dan IMF.

Angka utang Soeharto mencapai nilai 551,4 triliun rupiah, dengan perbadingan PDB yang senilai dalam kisaran Rp 955,6 triliun.

3. Utang Era BJ Habibie

Lengsernya Soeharto pada tahun 1998 berakhir pada pewarisan jabatan kepresidenan kepada wakilnya yang menjabat masa itu, yakni BJ Habibie.

Tidak hanya jabatan, utang negara yang senilai Rp 551,4 triliun juga diwariskan ke Habibie. 

Meskipun masa jabatan Habibie singkat, utang yang diakumulasikan pada masa jabatannya berada dalam kenaikan yang dinilai tinggi.

Utang di masa kepemimpinan Habibie mencapai  Rp 938,8 triliun, dengan perbandingan PDB yang senilai Rp 1.099 triliun.

4. Utang Era Gus Dur

Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid alias Gus Dur meninggalkan segudang prestasi semasa kepemimpinannya.

Salah satunya, ia telah berhasil menurunkan utang negara menjadi 77,2 persen, dengan rincian penurunan sebesar 4,15 miliar USD atau setara dengan Rp 60 triliun.

Kendati demikian, utang negara pada masa kepemimpinan Gus Dur senilai Rp 1.271 triliun dan PDB Rp 1.491 triliun.

5. Utang Era Megawati

Penurunan rasio utang negara juga dialami pada masa kempemimpinan Megawati.

Tercatat bahwa rasio utang negara senilai 56,5 persen terhadap PDB.

Jika dirinci lebih detil, maka nilai utang adalah Rp 1.298 triliun dengan PDB senilai Rp 2.303 triliun.

6. Utang Era SBY

Utang Rp 1.298 triliun yang diwarisi oleh Megawati, sayangnya disambut dengan pembengkakan utang negara menjadi Rp 2.608 triliun di masa kepemimpinan SBY.

Meskipun terjadi pembengkakan, SBY berhasil melunaskan utang negara yang dibebankan oleh IMF sejak 1997 silam.

SBY melalui Bank Indonesia berhasil membayarkan sisa utang ke IMF sebesar USD 3,7 miliar pada Oktober 2006 meskipun jatuh tempo pada tahun 2010.

Sehingga, SBY berhasil melunasi sisa utang empat tahun lebih awal. (tc/red)

PEWARTA : Mat Rani – Mud Cuplis Inding – Samjaya – Rul Pawa

EDITOR : Tajuddin Ngawing

banner 970x250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed