Tersangka NA Kian Terjepit?

HUKRIM968 views

Ket.Gambar : Berharap kasusnya dapat segera disidang, toh justeru KPK kembali memperpanjang masa tahanan tersangka NA, Gubernur Sulsel nonaktif. (rep)

banner 970x250

————————————————

Lagi KPK Perpanjang Masa Tahanan 30 Hari

MEDIAKTUAL.COM – JAKARTA :

Adagium ‘jika takut dilimbur pasang jangan berumah ditepi pantai. Jika takut beresiko, jangan kerjakan perbuatan salah’.

Makna pepatah ini, paling tidak menjadi warning sekaligus pengingat bahwa siapapun orang yang melakukan perbuatan hukum maka konsekuensinya harus ‘gentle’ mempertanggungjawabkannya secara hukum, termasuk kasus dugaan suap yang menjerat tersangka Nurdin Abdullah (NA), Gubernur Sulsel.nonaktif itu.

Yang menarik, hitung-hitung dipenghujung April 2021 ini, penyidik KPK tampak kian menambah ‘stres’ NA menghirup dinginnya tembok dibalik jeruji besi Rutan Cabang Pomdam Jaya Guntur.

Betapa tidak, KPK kembali melakukan perpanjangan masa penahanan NA  selama 30 hari, sejak tanggal tanggal 28 April 2021 sampai dengan 27 Mei 2021.

Hal tersebut, diungkapkan Plt.Juru Bicara KPK Ali Fikri, Senin 26 April 2021.

“Tim Penyidik KPK telah memperpanjang penahanan Tsk NA selama 30 hari berdasarkan penetapan pertama dari Ketua PN Makassar,” ungkapnya.

Selain Nurdin, sebut Ali Fikri, penyidik antirasuah juga melakukan perpanjangan penahanan terhadap Edy Rahmat (ER) selaku Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Provinsi Sulsel atau orang kepercayaan Nurdin. Ia juga ditambah penahanan selama 30 hari.

Alasan masa perpanjangan penahanan dua tersangka Nurdin dan Edy,  lantaran penyidik antirasuah masih memerlukan keterangan sejumlah saksi untuk mengumpulkan sejumlah bukti-bukti kuat rasuah para tersangka.

“Perpanjangan ini masih diperlukan oleh Tim Penyidik untuk terus melakukan pengumpulan alat bukti diantaranya dengan memanggil saksi-saksi guna melengkapi berkas perkara dimaksud,” paparnya.

Jubir KPK menambahkan, dalam kasus ini, sebagai pemberi yakni Agung Sucipto (AS) selaku kontraktor/Direktur PT Agung Perdana Bulukumba (APB).

Nurdin diduga menerima total Rp 5,4 miliar dengan rincian pada 26 Februari 2021 menerima Rp 2 miliar yang diserahkan melalui Edy dari Agung.

Selain itu, Nurdin juga diduga menerima uang dari kontraktor lain, di antaranya pada akhir 2020 Nurdin menerima uang sebesar Rp 200 juta, pertengahan Februari 2021 Nurdin melalui ajudannya bernama Syamsul Bahri menerima uang Rp 1 miliar, dan awal Februari 2021 Nurdin melalui Syamsul Bahri menerima uang Rp 2,2 miliar.

Dalam konstruksi perkara disebut, bahwa tersangka Agung mengerjakan proyek peningkatan Jalan Ruas Palampang-Munte-Bontolempangan di Kabupaten Sinjai/Bulukumba (DAK Penugasan) TA 2019 dengan nilai Rp 28,9 miliar, pembangunan Jalan Ruas Palampang-Munte-Bontolempangan (DAK) TA 2020 dengan nilai Rp 15,7 miliar.

Selanjutnya, pembangunan Jalan Ruas Palampang-Munte-Bontolempangan (APBD provinsi) dengan nilai Rp 19 miliar, pembangunan jalan, pedestrian, dan penerangan Jalan Kawasan Wisata Bira (Bantuan Keuangan Provinsi Sulsel 2020 ke Kabupaten Bulukumba) TA 2020 dengan nilai proyek Rp 20,8 miliar serta rehabilitasi Jalan Parkiran 1 dan pembangunan Jalan Parkiran 2 Kawasan Wisata Bira (Bantuan Keuangan Provinsi Sulsel 2020 ke Kabupaten Bulukumba) TA 2020 dengan nilai proyek Rp 7,1 miliar.

“Perpanjangan masa tahanan ini, tentu miris melihatnya. Tapi, mau bagaimana lagi, itu wewenang penuh penyidik apalagi masih membutuhkan keterangan saksi-saksi. Sebagai sesama orang Sulsel, tentu kita prihatin meskipun tak sedikit pula pihak yang kesal gegara manuver NA mengembat ‘fee’ disana-sini. Orang Makassar bilang ‘Angngowa Dudui, ya lumayan juga berpuasa di sel tahanan” sentil Rukli OmCos,  aktivis LSM penggiat anti korupsi itu.(sc/red)

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed